- March 11, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Kegiatan Santri
Mengungkap Makna Takjil ala Santri: dari Sunnah menjadi budaya War Takjil
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinanti umat muslim diseluruh dunia. Di bulan ini pintu ampunan terbuka lebar, rahmat Allah mengalir tanpa batas, dosa-dosa dihapus bagi mereka yang kembali dan jasad manusia haram tersentuh oleh api neraka, disebabkan kedatangannya disambut dengan penuh kegembiraan.
Pada bulan Ramadhan umat muslim di Indonesia memiliki kebiasaan unik saat bulan puasa. kebiasaan unik itu biasanya dilakukan dengan berburu takjil atau sekadar ngabuburit saat menunggu waktu berbuka puasa. Tapi pernah gak kebayang oleh kita, apa sebenarnya makna takjil itu? Atau jangan-jangan kata takjil yang sering kita ucapkan hanya sekadar istilah yang sudah terbentuk dan diwariskan turun-temurun dari zaman nenek moyang kita?.
Ternyata takjil berasal dari kata عَجَّلَ – يُعَجِّلُ – تَعْجِيلًا yang memilik makna menyegerakan. Makna tersebut berasal dari wazan Taf,ilan. Dalam ilmu Sharaf wazan tersebut bermakna Ta,diyah yang berarti “menyegerakan suatu perbuatan”. Oleh sebab itu makna takjil yang sebenarnya adalah Ta,jilul Fitr yang berarti perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Jadi takjil bukan hanya sebatas berburu makanan dan minuman untuk berbuka puasa, melainkan bentuk perintah untuk menyegerakan berbuka. Hal ini Selaras dengan hadis nabi yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad:
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر قال: قال رسول الله ﷺ عن سهل بن سعد رضي الله عنه
“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”. (HR Bukhari dan Muslim).
Hal ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 187, yang menjelaskan bahwa puasa dilaksanakan hingga datangnya waktu malam.
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Dengan demikian takjil itu bukan sekadar berburu makanan atau war takjil melainkan pengingat bahwa berbuka puasa tepat waktu tanpa menunda adalah bagian dari sunnah Nabi yang dianjurkan, sehingga sunnah nabi dan perintah Allah dalam Al- Qur’an tidak terabaikan.
Oleh : Ahmad Misbahuddin
Leave a Comment