- February 16, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Dawuh Guru, hari santri nasional, Kegiatan Santri, Mengaji, Santri Kudus, Santri Mengaji, Santri Qur'ani
Haflatul Hidzaq Putri Periode XI di Pondok Pesantren Nahdlatul Qur’an Kudus
Ahad, 20 Sya’ban 1447 H/ 08 Februari 2026 M– Gema sholawat dan lantunan ayat suci memenuhi udara di kompleks Pondok Pesantren Nahdlatul Qur’an Kudus. Hari ini, suasana haru tak terbendung saat para santriwati (hafilat) menjalani prosesi Haflatul Hidzaq, sebuah fase sakral yang menandai tuntasnya perjuangan mereka membersamai Al-Qur’an.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari aula utama bukan sekadar rutinitas, melainkan penanda puncak perjuangan para mujahid Al-Qur’an dalam gelaran Haflatul Hidzaq Periode XI.
Acara ini merupakan bentuk seremonial sekaligus laporan pertanggungjawaban akademik dan spiritual atas tuntasnya hafalan para santri, yang tahun ini diikuti oleh 33 Hafilat.
Alunan Khotmil Qur’an dan Pesan dari Hati
Prosesi diawali dengan pembacaan Khotmil Qur’an oleh para hafilat. Suara yang bergetar penuh penghayatan membuat para hadirin terhanyut dalam kekhusyukan. Setelah itu, Ketua Pelaksana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh panitia dan asatidz yang telah membimbing para santri hingga titik ini.
Suasana semakin menyentuh saat Saudari Hj. Gita Hafidzoh, sebagai perwakilan hafilat, naik ke podium. Dengan suara terbata karena menahan haru, ia menyampaikan terima kasih kepada guru dan orang tua.
Ketulusan ucapan terima kasih juga datang dari perwakilan wali hafilat, yang dengan rendah hati menitipkan kembali putra-putri mereka untuk terus dibimbing meski telah menyelesaikan hafalan.
Mauidhoh Hasanah Romo KH. Ulil Albab
Dalam sebuah pesan penuh hikmah, Romo KH. Ulil Albab menegaskan bahwa kemuliaan seseorang berbanding lurus dengan kedekatannya terhadap Al-Qur’an. “Jika kita ingin mengagungkan diri kita, maka agungkanlah Al-Qur’an,” dawuh beliau. Namun, pengagungan sejati bukanlah sekadar ucapan, melainkan sejauh mana kita mampu mengamalkan isinya sebagai kompas kehidupan di dunia.
Allah SWT telah menjanjikan Hayatan Thayyibah—kehidupan yang bahagia dan sejahtera—bagi siapa pun yang beriman dan mengamalkan petunjuk-Nya. Luar biasanya, keberkahan ini tidak hanya berhenti pada sang pembaca. Bagi mereka yang tekun berinteraksi dengan Al-Qur’an, Allah akan memakaikan mahkota kemuliaan kepada orang tua mereka di akhirat kelak, meski orang tua tersebut tidak ikut menghafal secara langsung.
Bagi para penghafal (Hafidzah), Romo mengingatkan bahwa keberhasilan menjaga wahyu-Nya bukanlah semata-mata hasil kecerdasan atau keuletan pribadi, melainkan sebuah Fadhol (anugerah) agung dari Allah. Maka, cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan istiqomah nderes dan menerapkan metode Fami Bi Syauqin agar hafalan tetap terjaga dan hati selalu terpaut pada ayat-ayat suci.
Sebagai standar minimal bagi setiap Muslim, beliau menganjurkan untuk setidaknya khatam dua kali dalam setahun—atau cukup dengan membaca empat halaman setiap hari. Dengan cara ini, rumah-rumah kita akan senantiasa dipenuhi cahaya kebaikan, dan derajat kita di surga akan terus meninggi seiring dengan setiap ayat yang kita lantunkan dengan tartil.
Momen Paling Sakral: Pembacaan Wasiat Guru Sepuh
Suasana mencapai puncak kekhusyukan tepat sebelum prosesi kelulusan dimulai. Bapak Pengasuh Bp. KH Arifin Noor naik ke podium dengan membawa naskah wasiat. Beliau membacakan Wasiat dari Guru Sepuh Al-Qur’an Almaghfurlah KH. Arwani Amin.
Wasiat tersebut berisi menekankan pada penjagaan hafalan Al-Qur’an melalui deres (murojaah) dengan tartil, tidak tergesa-gesa (cepat), serta melarang penggunaan Al-Qur’an untuk kepentingan duniawi. Santri diwajibkan istiqomah mengaji, menjaga adab, dan fokus pada kualitas bacaan daripada kuantitas.
Pembacaan wasiat ini menjadi pengingat bagi para hafilat bahwa mereka kini memikul amanah besar dari para guru-guru terdahulu.
Penyerahan Syahadah dan Dekapan Hangat Keluarga
Pasca pembacaan wasiat, barulah prosesi penyerahan syahadah dilaksanakan. Satu per satu santri menerima ijazah kelulusan sebagai tanda legalitas keilmuan mereka.
Acara yang berlangsung ditutup dengan sesi foto bersama keluarga. Para orang tua yang hadir tak mampu membendung rasa bangga saat menyambut putri-putri mereka yang kini telah menyandang gelar hafidzah. Kebersamaan di depan kamera ini menjadi potret abadi atas perjuangan panjang yang akhirnya berbuah manis.
Oleh : Ellviaaf
Leave a Comment