- April 22, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Kegiatan Santri
Kartini dan Spirit “Minazh Zhulumaati ilan-Nuur”: Catatan dari Balik Pesantren
Jepara, akhir abad ke-19. Di balik tembok tebal kadipaten yang dingin, seorang gadis muda duduk termenung di depan jendela yang terkunci. Namanya Raden Ajeng Kartini. Di luar sana, angin laut Jawa membawa kabar tentang kemajuan dunia, namun di dalam sini, nasib perempuan seolah sudah digariskan: dipingit, dinikahkan, dan diam.
Namun, di dalam dada Kartini, ada api yang tidak bisa padam oleh tradisi yang kaku. Kegelisahannya bukan hanya soal kebebasan fisik, melainkan kegelisahan ruhani. Ia bertanya-tanya tentang Tuhan, tentang hakikat hidup, dan tentang mengapa kitab suci yang ia baca setiap hari terasa begitu asing karena ia tak mengerti maknanya. Inilah titik awal sebuah “Hijrah” besar dari kegelapan menuju cahaya.
Sejarah besar seringkali lahir dari pertemuan-pertemuan yang tampak sederhana. Begitu pula dengan Kartini. Momen krusial dalam hidupnya terjadi saat ia menghadiri pengajian di rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Di sana, duduk seorang ulama karismatik dengan sorban putih, KH. Sholeh Darat, ulama besar yang juga guru dari KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.
Kala itu, Kiai Sholeh sedang membedah tafsir Surah al-Fatihah. Kartini yang hadir di balik tabir (hijab) merasa seolah-olah hatinya tersiram air sejuk. Selama ini, ia hanya diajari membaca Al-Qur’an secara tartil tanpa menyentuh maknanya. Keberanian santriwati dalam diri RA Kartini pun muncul. Setelah pengajian, melalui perantara pamannya, Kartini menyampaikan keberatannya:
“Kiai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dari surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah. Mengapa para ulama kita tidak menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa agar kami yang awam ini tidak kehilangan arah?”
Mendengar kritik cerdas dari seorang ningrat muda tersebut, Kiai Sholeh Darat tertegun. Ia menyadari bahwa selama ini ada “tembok” yang menghalangi umat dengan kitab sucinya. Dari sanalah, Kiai Sholeh Darat mulai menulis Tafsir Faidh al-Rahman, tafsir Al-Qur’an pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon. Kitab ini diberikan sebagai hadiah pernikahan kepada RA Kartini—sebuah mahar ilmu yang jauh lebih berharga daripada emas permata.
Filosofi: Dari Kegelapan Menuju Cahaya
Dalam suratnya kepada Rosa Abendanon, RA Kartini berkali-kali menyebut sebuah frasa yang ia temukan dalam Al-Qur’an: “Door Duisternis tot Licht” yang merupakan cerminan dari ayat:
يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Dia (Allah) mengeluarkan mereka dari kegelapan (kebodohan) kepada cahaya (ilmu).” (QS. al-Baqarah/ 2: 257)
Bagi kita para santri, perjuangan RA Kartini adalah perjuangan Tajdid (pembaruan). Ia ingin meruntuhkan zhulumat (kegelapan) berupa diskriminasi pendidikan dan kemiskinan intelektual. RA Kartini membuktikan bahwa menjadi cerdas tidak harus menjadi kebarat-baratan. Ia tetap bangga dengan identitasnya sendiri, tetap santun dengan tradisinya, namun otaknya merdeka dengan cahaya ilmu.
Dalil Kewajiban Intelektual bagi Muslimah
Agama tidak pernah menjadi penghalang bagi perempuan untuk maju. Justru Islam adalah agama yang pertama kali memproklamirkan bahwa ilmu adalah hak mutlak setiap jiwa. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah ditekankan:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
Kata “Muslim” di sini bersifat universal, mencakup laki-laki dan perempuan. RA Kartini adalah pengamal hadits ini yang paling nyata di zamannya. Ia sadar bahwa untuk menjadi Madrasatul Ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya, seorang ibu harus memiliki wawasan yang luas.
Hari Kartini adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kegelisahan seorang pencari ilmu. Mari kita jadikan momentum ini untuk membuktikan bahwa santri bukan sekadar penjaga tradisi, tapi juga pelopor transformasi. Di tangan santri yang cerdas dan berakhlak, kejayaan bangsa dan agama bukan lagi sekadar mimpi, melainkan janji fajar yang akan segera terbit.
“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.” — RA Kartini
Oleh : Ellviaaf
Leave a Comment