- March 7, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Kegiatan Santri
Menjadi Seperti Apa Kita di Hadapan Al-Qur’an?
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan harian. Ia menjadi teman belajar, sumber petunjuk, bahkan penuntun akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pernahkah kita bertanya: sejauh mana Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita?
Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran yang sangat indah tentang manusia dan hubungannya dengan Al-Qur’an. Perumpamaan ini diriwayatkan dalam hadis sahih:
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah; aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma; tidak beraroma tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah; aromanya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti hanzolah; tidak beraroma dan rasanya pahit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari perumpamaan sederhana ini, Rasulullah ﷺ sebenarnya sedang mengajak kita bercermin: kita ini termasuk yang mana?
- Utrujjah: Harum dan Manis, Gambaran Muslim Ideal
Utrujjah adalah buah yang memiliki aroma harum sekaligus rasa yang lezat. Dalam perumpamaan Rasulullah ﷺ, buah ini menggambarkan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an.
Artinya, keimanannya baik, dan hubungannya dengan Al-Qur’an juga kuat. Ia membaca, memahami, dan berusaha mengamalkannya.
Orang seperti ini tidak hanya baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain. Akhlaknya menenangkan, ucapannya menyejukkan, dan kehadirannya membawa kebaikan. Al-Qur’an bukan hanya di lisan, tetapi juga tercermin dalam perilaku.
- Tamar (Kurma): Manis Meski Tak Tercium Aromanya
Jenis kedua adalah mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, yang diibaratkan seperti kurma.
Kurma rasanya manis, tetapi tidak memiliki aroma yang kuat. Begitu pula orang mukmin ini. Keimanannya tetap ada, hatinya baik, tetapi ia belum dekat dengan Al-Qur’an.
Mungkin ia sibuk, mungkin ia belum terbiasa, atau mungkin ia belum menemukan kenikmatan membaca Al-Qur’an.
Namun, Rasulullah ﷺ tetap menggambarkannya dengan sesuatu yang manis. Artinya, iman tetaplah sesuatu yang bernilai.
Siapapun yang merasa masih jarang membaca Al-Qur’an, hadis ini bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi justru sebagai ajakan untuk naik tingkat. Dari kurma menuju utrujjah.
- Raihanah: Harum di Luar, Pahit di Dalam
Jenis ketiga adalah orang munafik yang membaca Al-Qur’an, diibaratkan seperti raihanah, yaitu tumbuhan yang aromanya harum tetapi rasanya pahit.
Secara lahiriah, ia terlihat baik. Mungkin suaranya merdu saat membaca Al-Qur’an, mungkin penampilannya religius. Namun, hatinya tidak sejalan dengan apa yang dibacanya.
Inilah peringatan yang halus namun mendalam dari Rasulullah ﷺ: jangan sampai Al-Qur’an hanya berhenti di lisan.
Para ulama sering mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an harus diiringi dengan tazkiyatun nafs—membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.
Karena jika tidak, ilmu justru bisa menjadi hiasan luar tanpa perubahan batin.
- Hanzolah: Pahit dan Tak Beraroma
Jenis terakhir adalah yang paling buruk: orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, diibaratkan seperti hanzolah, buah yang pahit dan tidak memiliki aroma.
Tidak ada keimanan yang kuat di dalam hati, dan tidak ada pula hubungan dengan Al-Qur’an.
Perumpamaan ini menunjukkan betapa pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan seorang muslim. Tanpanya, hati bisa menjadi kering dan arah hidup menjadi kabur.
Al-Qur’an: Cermin untuk Diri Sendiri
Hadis ini bukan untuk menilai orang lain, tetapi untuk mengoreksi diri sendiri.
Setiap dari kita mungkin pernah berada di salah satu posisi tersebut. Ada masa ketika kita sangat dekat dengan Al-Qur’an, ada pula masa ketika kita mulai jauh.
Namun, kabar baiknya adalah posisi itu bisa berubah. Seseorang yang hari ini seperti kurma bisa menjadi utrujjah jika ia mulai membiasakan diri membaca dan memahami Al-Qur’an.
Kebiasaan mengaji setiap hari sebenarnya adalah latihan untuk membentuk hubungan yang akrab dengan kitab suci ini.
Menjadi Generasi Utrujjah
Para ulama sering mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dihidupkan.
Ia hidup dalam cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Ia tampak dalam kejujuran, kesabaran, dan rasa tanggung jawab.
Jika Al-Qur’an hanya terdengar dari lisan tetapi tidak tampak dalam perilaku, maka pesan utamanya belum benar-benar kita tangkap.
Karena itu, tujuan belajar Al-Qur’an bukan sekadar lancar membaca, tetapi menjadi manusia yang “harum dan manis” seperti utrujjah—baik di dalam maupun di luar.
Semoga kita semua termasuk golongan yang tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya cahaya dalam kehidupan.
Oleh : Abdurrohman
Leave a Comment