- February 16, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Dawuh Guru, hari santri nasional, Kegiatan Santri, Mengaji, Santri Kudus, Santri Mengaji, Santri Qur'ani
Haflatul Hidzaq Putra Periode V di Pondok Pesantren Nahdlatul Qur’an Kudus
Kudus –Pondok Pesantren Tahfidz Nahdlatul Qur’an Kudus hari Kamis, 24 Sya’ban 1447 H/ 11 Februari 2025 M Halaman pondok pesantren tampak dipenuhi suasana khidmat saat para santri bersiap menjalani prosesi Haflatul Hidzaq Periode V. Acara yang menjadi tonggak capaian spiritual bagi para penjaga wahyu ini berjalan dengan penuh kehangatan, mempertemukan kebahagiaan para santri dengan rasa bangga para wali santri yang hadir dari berbagai penjuru.
Suasana semakin hening dan syahdu saat memasuki Prosesi Khotmil Qur’an. Sebanyak 9 hafilat, satu per satu santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergantian, mulai dari QS. al-Takāṣur hingga akhir QS. al-Nās di tutup dengan doa khatam yang menggetarkan. Alunan suara mereka yang tertata rapi tidak hanya menunjukkan kefasihan, tetapi juga menjadi bukti kesungguhan mereka selama bertahun-tahun bersimpuh di hadapan kalamullah. Lantunan doa khotmil Qur’an yang diamini serentak oleh hadirin membawa suasana haru yang mendalam di sela-sela prosesi tersebut.
Puncak acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang penuh kesejukan oleh Romo KH. Ulil Albab. Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an adalah teman seumur hidup yang tidak boleh ditinggalkan hanya karena prosesi khataman telah usai.
“Anak-anakku, ingatlah bahwa hakikat belajar Al-Qur’an itu tidak terbatas hanya pada hafalan lisan, melainkan harus meresap hingga menjadi akhlak. Mengaji itu tidak ada batasan akhirnya; sebagaimana dawuh Nabi Muhammad SAW, أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ artinya “tuntutlah ilmu sejak dalam buaian hingga liang lahad”. Menjadi sebaik-baik manusia adalah mereka yang terus menyibukkan diri belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Selepas dari acara ini, diharapkan awalnya mungkin hanya membaca sedikit, mulai sekarang biasakanlah sedikit-sedikit membaca Al-Qur’an. Mulailah berjanji pada diri sendiri untuk istiqomah membaca Al-Qur’an menjadi nafas dalam keseharianmu,” pesan Romo KH. Ulil Albab dengan nada yang sangat menyentuh.
Ketakziman hadirin mencapai puncaknya tepat sebelum prosesi penyerahan syahadah dimulai. Bapak Pengasuh, KH. Arifin Noor, naik ke podium dengan membawa naskah Wasiat Almaghfurlah KH. Arwani Amin, sang guru sepuh Al-Qur’an kebanggaan Kudus. Beliau membacakan poin-poin wasiat suci yang menjadi pegangan wajib bagi para santri:
Wasiat tersebut menekankan pentingnya menjaga hafalan melalui rutinitas deres (murojaah) dengan tartil dan tenang, tanpa sikap terburu-buru. Para santri dilarang keras menggunakan Al-Qur’an sebagai alat untuk mengejar kepentingan duniawi. Fokus utama seorang penghafal haruslah pada kualitas bacaan dan kemuliaan adab, bukan sekadar mengejar kuantitas hafalan.
Pembacaan wasiat ini menjadi pengingat yang menggetarkan bahwa para khotimat kini memikul amanah besar dari sanad guru-guru terdahulu. Acara pun ditutup dengan momen prosesi Penyerahan Syahadah. Suasana syukur haru pecah saat satu per satu santri melangkah naik ke panggung untuk penyerahan syahadah dan di tutup dengan foto bersama. Momen ini menjadi simbol restu yang tak ternilai, sebuah saksi bisu atas lelah dan doa orang tua yang kini terbayar tunai melihat putranya menjadi penjaga kalamullah.
Oleh : Abdurrohman
Leave a Comment