- June 9, 2026
- nahdlatul_quran
- 0 Comments
- Kegiatan Santri
Benarkah Nafsu Identik dengan Hal Negatif Belaka?
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa nafsu selalu identik dengan hal-hal negatif, seperti keinginan terhadap syahwat atau perilaku negatif lainnya. Stigma ini sudah terlanjur melekat di masyarakat luas dan menimbulkan kekeliruan dalam memahami makna aslinya. Padahal, sebenarnya makna nafsu jauh lebih luas dari sekadar itu. Makna nafs secara harfiah berarti jiwa, pribadi atau self. Lalu apa kaitannya dengan nafs yang mendorong kedalam keburukan?.
Secara umum nafs adalah jiwa manusia yang memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang negatif, maka tak ayal jika kata nafs identik dengan sesuatu yang buruk. Padahal maknanya lebih dari itu. Dalam Al-Qur’an Allah membagi nafs ke dalam tiga tingkatan, yaitu nafs’ ammarah, nafs’ lawwamah dan nafs’ mutmainnah.
Imam Al-Ghazali memandang ketiganya sebagai kondisi jiwa yang dapat dialami semua manusia. Ketika seseorang lebih menuruti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan baik dan buruk, maka Al-Qur’an menyebutnya nafs ammarah sebagaimana ditegaskan dalam QS.Yusuf:53. Jenis nafs ini cenderung mengajak kepada keburukan. Namun, manusia tidak selalu stuck pada kondisi tersebut. Dalam perjalanan hidup yang terus berputar, seseorang bisa saja menyesali kesalahannya. Keadaan inilah yang digambarkan Al-Qur’an sebagai nafs lawwamah sebagaimana dalam QS. Al-Qiyamah ayat 2.
Selain itu, Imam Ghazali melanjutkan bahwa kesadaran untuk mengoreksi diri merupakan langkah penting dalam perjalanan spiritual seseorang. Dari sinilah seseorang perlahan memperbaiki diri dengan self control serta membiasakan jiwanya dengan hal yang baik. Jika proses tersebut dilakukan secara istiqamah, maka ia dapat mencapai derajat yang lebih tinggi, yaitu nafs mutmainnah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Fajr ayat 27–28.
Jiwa yang tenang bukan berarti tidak lagi memiliki keinginan, tetapi keinginan tersebut lebih diarahkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai syariat dalam Al- Qur’an. Oleh sebab itu, keberadaan nafs tidak selalu identik dengan keburukan. Justru Al-Qur’an menegaskan bahwa nafs dapat diupgrade dari kedudukan rendah menuju derajat mulia di sisi Allah. Dan pada akhirnya jiwa yang tenang(nafs mutmainnah) di akhirat kelak masuk kedalam golongan yang Allah janjikan surga dan segala kenikmatannya. fa dkhulī fī ‘ibādī wa dkhulī jannatī” .
Oleh : Ahmad Misbahuddin
Leave a Comment